Kamis, 15 April 2010

Koja Berdarahhhhhhh....

“Ketika Kepentingan Sudah Bermain di Sini”


Lagi – lagi peristiwa berdarah yang juga berujung munculnya korban jiwa, tidak dapat dibendung lagi..tragis memang. Tindak kekerasan yang memicu terjadi bentrokan antara warga dan aparat di Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (14/4), akibat kekeliruan dalam pendekatan terhadap masyarakat. Bentrokan ini merupakan akumulasi dari dampak penerapan pendekatan keamanan yang lebih dominan dalam kebijakan pembangunan.
Pola seperti itu semestinya tidak dipakai, dan lebih mengedepankan pendekatan melalui diplomasi. Kita bisa melihat di televisi atau membaca di media cetak dan elektronik, kalau Selama ini banyak penggusuran yang dilakukan oleh satpol PP yang menimbulkan perlawanan akibat kekeliruan dalam pendekatan. Terlepas dari setuju dan tidak setuju, yang jelas pendekatan yang mengarah pada pemaksaan pasti akan menimbulkan perlawanan. (iya gak sih?)

kalau mau melihat lebih dekat, sebenarnya proses eksekusi hanya bagian kecil dari pendekatan tersebut, sehingga yang lebih utama adalah diplomasi dengan masyarakat, baik itu menyangkut kebijakan yang berpihak kepada mereka, dan tata ruang, maupun diplomasi melalui tokoh agama serta tokoh masyarakat. Tapi sepertinya yang terjadi malah tidak demikian, karena sudah merasa menang hitam di atas putih, banyak hal yang dilakukan dengan semena-mena.

Ada baiknya kalau Sekarang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Polri mengkaji ulang praktik penegakan hukum dengan cara seperti itu. Apabila dalam penegakan hukum aparat keliru dalam melangkah, akan menyulut kemarahan masyarakat, yang akhirnya tidak tanggung-tanggung memakan korban jiwa.

Dan perlu juga kita ketahui, kalau masyarakat itu sangat mudah untuk terprovokasi terutama dengan hal yang menyangkut kepentingan – kepentingan kelompok dan individu. Kalau saya boleh sedikit mengkutip kalimat dari salah seorang pakar dari UGM Yogyakarta, menurut Arie, saat ini masyarakat sedang mengalami frustasi, sehingga sangat berpotensi terprovokasi.

Bentrok seperti di Tanjung Priok bisa terjadi di mana pun apabila tidak ada koreksi dan perbaikan dari kedua pihak. Sehingga kejadian tersebut menjadi akhir dari pendekatan keamanan yang dilakukan aparat, karena jika masih dilakukan cara seperti itu, kemungkinan akan kembali jatuh korban di kalangan masyarakat, Satpol PP, Polri maupun pihak lain. Selain itu, masyarakat saat ini mudah marah, karena ada gejala ruang dialog mereka semakin sempit. Adapun alas an lain, kemungkinan adanya pengelompokan dan degradasi sosial di kota besar seperti di Jakarta, rentan terjadi konflik dan tindak kekerasan, terutama terkait dengan kebijakan pemerintah dalam pembangunan.