Senin, 29 Maret 2010

All About Sukabumi.....(Edisi 3)


Mengapa Sukabumi?

Tahun 2007-sekarang (2010), Sukabumi masih menjadi sasaran bagi investor asing untuk menanam sahamnya di Indonesia.Sampai saat ini sudah ada 850an pabrik. Bisa dibayangkan bila dalam 1 perusahaan saja menampung minimal 1000 orang, bila dikalikan 850 perusahaan, kita bisa bayangkan berapa banyak. Selain itu, mayoritas (80%) pekerja yang ada adalah perempuan.Rata2 pendidikan mereka adalah lulusan SD dan SMP. Dan tenaga yang diserap kebanyakan dari luar daerah Sukabumi. Hal ini disebabkan dengan standar pendidikan dan juga adanya skill yang dimiliki calon pekerja. Kebanyakan pendatang memiliki kriteria yang dicari oleh perusahaan yang merekrut, seperti keahlian menjahit dan standar pendidikan yang dimiliki minimal SMP.

Selain itu, untuk memenuhi tenaga pekerja wanita/perempuan, Sukabumi tidak dapat memenuhi sebanyak itu, sehingga memunculkan banyaknya pendatang. Dengan adanya perekrutan tenaga kerja wanita, ini menyebabkan juga munculnya angka pengangguran yang tinggi dari kelompok pria /laki-laki. Ini juga di sebabkan kurangnya perusahaan yang mampu menampung tenaga kerja laki-laki.Kendala ini juga yang menyebabkan warga yang ada di sekitar pabrik tidak bekerja di pabrik yang ada dilingkungan mereka, bahkan perjanjian yang dulu telah disepakati, kini banyak yang tidak di jalankan oleh pihak perusahaan. Dan warga sendiri tidak punya banyak keberanian untuk memeprtanyakan kepada perusahaan, hal ini disebabkan adanya dukungan dari polisi dan juga preman2 setempat yang mendukung perusahaan karena dibayar. yah tidak beda dengan anjing perusahaanlah.

Minimnya pengetahuan masyarakat di Sukabumi tetang undang-undang ketenagakerjaan, serta upah kerja yang masih sangat minim, menarik kami untuk berada di Sukabumi. bisa dibayangkan, fakta bahwa Sukabumi adalah kota yang memiliki upah terendah di Jawa Barat. Untuk tahun 2010 saja upah tertinggi hanya 690 ribu rupiah, apalagi pada tahun sebelumnya. sedangkan perusahaan yang berdiri di Sukabumi hampir 80% merupakan kawasan berikat, yang artinya adalah semua barang yang diproduksi merupakan barang ekspor. muncul pertanyaan, bagaimana mungkin perusahaan yang memproduksi barang ekspor, yang berada di jakarta dan di sukabumi berbeda? padahal barang dan brand yang diproduksi sama?

Ini juga salah satu yang disebabkan dari kerjaan pemerintah yang berinisiatif dalam membagi2kan roti kepada masing-masing daerah. Dalam hal pengupahan, setiap provinsi diberikan hak untuk menentukan kebijakan upah minimum. sehingga ada dampak yang  negatif bagi tenaga kerja yang ada. Mereka yang menjadi korban eksploitasi tenaga kerja dari segi upah. Belum lagi kalau kita mau melihat dari kerjaan yang layak serta belum terpenuhinya hak-hak pekerja yang ada di Sukabumi.

Sukabumi memiliki culture yang tidak jauh dengan orang-orang jawa. Ada kebiasaan menerima apa yang mereka peroleh begitu saja. dan hal ini tidaklah salah, dan sifat menerima itu sangat disarankan atau dianjurkan oleh agama Islam dan beberapa agama lainnya. hanya saja menerima yang bagaimana?
Beberapa hal yang selama ini aku pelajari, khususnya bagi mereka yang  bekerja di pabrik-pabrik adalah, ketika ditanya soal upah mereka, jawabannya amat sederhana. "Yang penting bagi kami adalah bekerja, upah ya seadaanya", meskipun sebenarnya mereka tahu kalau upah tersebut sangat tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan harian mereka, bahkan mereka harus tombok. Selain itu, kalau kita melihat gaya hidup keseharian mereka, khususnya perempuan, sangatlah menarik. Bisa dibayangkan, kebanyakan perempuan di sana, tidaklah ingin terlihat tidak cantik (hampir semua mungkin ya), sehingga hampir setiap hari mereka bangun tidur, bahkan belum sempat mandi pun, mereka sudah memoles wajah mereka dengan makeup. Dan makeup yang mereka gunakan pun bukanlah makeup yang biasa2 aja. cukup mahal jg. Informasi ini dari beberapa perempuan yang saya temui di Sukabumi.

Status mereka yang sudah bekerja khususnya di pabrik, menjadikan mereka sedikit lebih bergengsi daripada mereka yang menjadi pekerja rumah tangga. padahal, mereka tidak menyadari, untuk saat ini penghasilan pekerja rumah tangga di jakarta dengan mereka yang bekerja di pabrik di Sukabumi, tidaklah jauh berbeda, dan bisa dibilang masih lebih enak mereka yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Mengapa demikian?

Coba kita belajar menghitung sebentar...mulai dari pengeluaran bulanan bagi mereka yang hidup di Sukabumi. Bagi yang mengkotrak ruang 3 petak, setiap bulan mereka harus mengeluarkan uang selama sebulan kurang lebih 250 - 300 ribu perbulan.Untuk biaya makan kalau dihitung paling murah sekali makan tujuh ribu rupiah, kali kan 3 berarti dalam sehari Rp.21.000,-. trus dikalikan 30 hari. jadi untuk makan dalam sebulan saja sudah membutuhkan pengeluaran sebesar Rp. 630.000,-. Jadi untuk makan dan tempat tinggal saja sudah membutuhkan pengeluaran sebesar kurang lebih 1 jutaan. Belum lagi kebutuhan pokok lainnya yang juga harus dipenuhi oleh mereka. Seperti listrik, pakaian, perlengkapan mandi, transportasi, make up (untuk wanita), komunikasi (pulsa), dan beberapa kebutuhan pokok lainnya. Bisa diperkirakan akan membutuhkan biaya hidup lebih dari 1.5 jt perbulan. Apa lagi yang sudah berkeluarga dan punya anak? mana cukup upah sebesar itu (Rp. 690.000/bulan)?????

Dengan upah sebesar itu pun, mereka para pekerja masih dipaksa untuk bekerja dengan waktu kerja yang tidak normal, dan upah lembur yang tidak sesuai dengan perhitungan yang seharusnya (kurang dari semestinya).  Belum lagi bila mereka mendapatkan caci maki dari para supervisor yang memperlakukan mereka dengan kasar. dan ancaman untuk memberhentikan mereka yang melawan. Tragis memang kalau sudah memberikan ancaman yang demikian, hal ini terbukti membuat para pekerja/buruh menjadi takut tidak mendapat pekerjaan lg, meskipun jika mereka melawan adalah mempertanyakan hak mereka sebagai pekerja.